Tanya: Kiguru, Adakah amalan ilmu Kasyaf, misalnya seperti tahu kejadian sebelum terjadi atau tahu isi hati / pikiran orang lain?
Jawab:
Ini masuk materi untuk siswa Tingkat Dua (Ilmu Spiritual Jiwan-Mukti). Namun berikut ini saya akan berikan kaidah-kaidahnya. Kasyaf itu artinya terbuka. Yaitu terbuka hijab / tabir keghaiban, sehingga tampaklah sesuatu hal yang ghaib. Dalam tingkatan yang lebih tinggi (hakikat) disebut mukasyafah. Rasulullah SAW pernah bersabda: “Berhati-hatilah pada firasat seorang mukmin, sebab ia melihat dengan cahaya (Nur) Allah“.
Ada banyak riwayat tentang orang-orang yang kasyaf. Yang mahsyur (terkenal) adalah kisah Nabi Khidir as. Saat dalam perjalanan dengan Nabi Musa as.
Suatu ketika diatas mimbar saat sedang khotbah Jumat, Khalifah Umar bin Khattab Ra tiba² berteriak lantang memberi komando: “Ya Sariah naik ke bukit!” Para jama’ah heran & tidak mengerti. Selang beberapa Minggu kemudian, datanglah rombongan pasukan Muslim dari berperang melawan tentara Persia. Bercerita pada saat pasukan terdesak di Medan perang, terdengar suara komando dari Umar bin Khattab.
Kisah Sayyidina Ali menyaksikan alam kubur : Malaikat Mungkar-Nakir dibentak oleh sayyidina Umar.
Nabi SAW sedang naik mimbar, ada sekelompok sahabat yang masih berdiri lalu Nabi menyuruhnya untuk duduk. Jauh diluar kota Madinah ada seorang sahabat yang sedang menggembalakan kambing²nya ia pun turut duduk ditempatnya. Meski jaraknya tempatnya berjauhan, tetapi ia dapat mendengar pertintah Rasulullah SAW tersebut.
Imam Abu Hanifah pernah mengalami mukasyafah yang membuatnya bisa melihat dosa² orang hanya dari melihat tetesan air wudhu orang tersebut.
Fenomena Kasyaf (terbukanya tabir keghaiban / hal-hal yang samar) dapat terjadi pada setiap orang. Namun para Guru membedakan antara Kasyafnya orang yang melihat dengan Nur – Cahaya Allah, dengan kasyafnya orang yang melihat dengan Nar – Apinya setan (Khodam Jin).
Saya yakin, kita sebagai orang biasa (awam) pun pernah mengalami fenomena Kasyaf walau hanya sesaat atau sesuai kadar masing-masing. Mendapatkan firasat², seolah-olah weruh sakdurunge winarah (tahu sebelum terjadi). Seorang ibu yang hatinya gelisah, ternyata di perantauan sana, anak atau suaminya sedang sakit atau kena musibah. Dan semacamnya.
Dulu saat remaja, hal-hal semacam itu membuat saya penasaran, ingin tahu darimana datangnya semua firasat itu. Kemudian saya temukan jawabannya ketika saya belajar Ilmu Tasawuf dan ilmu Spiritual. Bahwa ada dalam bagian diri kita yang namanya SIRR atau orang Jawa menyebutnya Rahsa yang artinya rahasia.
Dalam ilmu Tasawuf, unsur Ruhani kita terdiri dari 5 perangkat, yaitu Akal, Nafsu, Ruh, Sirr dan Nur. Pada saat badan jasmani dan 5 perangkat ruhaninya tersebut terjaga kebersihannya, bening – jernih, seakan tanpa noda, maka NUR akan menerangi pandangan. Mata batin atau Firasatnya menjadi sangat tajam (jitu). Terjadilah fenomena kasyaf. Sebagaimana diterangkan dalam hadits: “Berhati-hatilah pada firasat seorang mukmin, sebab ia melihat dengan cahaya (Nur) Allah“.
Dalam ilmu Spiritual Jawa, ada yang namanya “Rasa Luar” di lapisan jasmani, dan ada “Rasa Dalam” di batin. Lebih dalam lagi ada yang namanya “Rasa Sejati” atau Extra Sensory Perception (ESP) yaitu kemampuan untuk memperoleh informasi tanpa menggunakan kelima indra Jasmani (penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, dan peraba) mencakup berbagai fenomena kasyaf seperti telepati (membaca pikiran), prekognisi (mengetahui masa depan), dan clairvoyance (melihat peristiwa dari jarak jauh). Rasa Sejati atau ESP ini oleh orang awam disebut sebagai “indra keenam“.
Setiap orang memiliki kelima perangkat Ruhani dan Rasa Sejati, oleh karena itu saya katakan bahwa fenomena Kasyaf dapat terjadi pada siapa saja. Hanya berbeda-beda kadarnya. Fenomena Kasyafnya orang biasa (yang terjadi hanya sesaat / tidak menentu / tiba-tiba), tentu berbeda dengan mukasyafahnya para Wali – kekasih Allah. Berbeda pula dengan orang-orang yang tahu ini-itu karena bantuan khodam ghaibnya.
Bagi para pelaku spiritual (Spiritualis atau Salik) yang sudah membiasakan untuk riyadhoh pensucian diri, (selengkapnya baca di buku Ilmu Spiritual JIWAN-MUKTI) Kasyaf & Mukasyafah hanyalah merupakan pengalaman ruhani yang akan dialami. Maka jangan kaget atau sombong, membanggakan diri apalagi dipamer-pamerkan. Maqom Kasyaf bukan puncak pencapaian dan bukan menjadi tujuan utama belajar ilmu Spiritual.
Silahkan Bertanya & Berdiskusi dengan Sopan :