Oleh: Ki Umar Jogja | 17 Agustus 2017

Ilmu Sejati

WEJANGAN RASA SAJATI
#Bait 01

“Satuhu ngelmu kang sejati iku tan tinggal Hyang Tunggal.
Kang kasebut iki saktemene keyakinan kang bener.
Mulo sira nyebuto asmaning Pangeraniro kang Maha Agung”

Sesungguhnya ngelmu (ilmu hikmah) yang sejati itu, tidak akan meniadakan Tuhan. Inilah keyakinan yang benar. Maka bertasbihlah menyebut nama Tuhanmu Yang Maha Agung.
(Ki Umar Jogja)

Ilmu dan ngelmu itu berbeda. Ilmu itu dari konsep teori yang rasional dan dapat dianalisa, lalu disebut ilmiah (dari kata ilmu yang mendapat akhiran -iyyah (bahasa Arab) yang bermakna mempunyai sifat. Contohnya ilmu pengetahuan yang diajarkan di sekolah formal, bersifat teori analisis.

Sedangkan Ngelmu sebaliknya, konsep teori dari yang tidak rasional analisis. Ngelmu (bahasa Jawa) adalah sesuatu hal yang tidak hanya cukup dipahami tetapi juga harus diamalkan (laku) dengan penghayatan, maka akan dirasakanlah ngelmu itu. Ada ungkapan Jawa: “ngelmu iku kelakon kanthi laku” (ia akan terjadi jika diamalkan). Contohnya: Aji-Mantra.

Dari kalangan santri, sering kita dengar tentang kata “Ilmu Hikmah“, yaitu pengamalan doa-dzikir (wirid) yang disertai dengan amaliyah pengekangan hawa nafsu. Contohnya dengan diiringi amalan puasa. Kata Hikmah berasal dari kata Hakama yang arti mulanya adalah menghalangi, lalu bermakna kendali. Mengendalikan hawa nafsu yang mengajak keburukan, misalnya dengan berpuasa itu. Sebab puasa / shaum / siyam juga bermakna sama, yaitu menahan diri. Kata “Hikmah” banyak tertera di Al Quran. Hikmah adalah kemampuan yang mengandung pengetahuan ilahiyyah, yang artinya tidak hanya bersifat teori semata tetapi juga pengamalan (aplikasi). Dalam pandangan saya, ini berarti pengertian ILMU HIKMAH dari kalangan santri sama dengan NGELMU bagi penghayat ilmu mistik Jawa.

Dianugerahkan oleh Tuhan kepada manusia. Sebab tiada daya dan upaya selain dariNYA. DIA-lah sumber inspirasi dari segala ilmu yang diilhamkan dalam kalbu manusia. Maka sudah sepatutnya adanya pengakuan KEIMANAN kepadaNYA. Barangsiapa yang menemukan ilmu dan Hikmah tetapi tidak mampu melihat wajah Tuhan, maka sesungguhnya ia telah terhijab. Dan barangsiapa telah yang menemukan ilmu dan Hikmah, sedangkan dirinya mampu melihat wajah Tuhannya maka sungguh itu adalah karunia yang besar. Patut bersyukur dengan mengagungkan asma-NYA.

DIA menganugerahkan AL-HIKMAH kepada siapa yang DIA kehendaki dan barangsiapa yang diberi HIKMAH, maka sungguh ia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali ulul albab (orang-orang yang mempunyai akal dan hati yang bersih). Al Baqarah : 269

—o0o—

Ki Umar Jogja

rasasejati.wordpress.com


Silahkan Bertanya & Berdiskusi dengan Sopan :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: